Apa titik kemuliaan dari seorang hamba/manusia sbg makhluk dgn sebaik2 penciptaan?suatu pertanyaan yang menarik, tuk ditelusuri berdasarkan akhbar dari alloh swt dan rasulnya,dalam alqur’an alloh swt berfirman “kamu adalah umat yg paling terbaik yang dikeluarkan dimuka bumi, kamu menyuruh manusia berbuat baik dan kamu mencegah dari perbuatan mungkar dan kamu beriman kpd alloh swt.……(Aali imran 110), dari ayat tersebut ada tiga point yang menjadikan manusia mulia disisi alloh swt :1. kamu menyuruh manusia berbuat baik 2. kamu mencegah dari perbuatan mungkar3. kamu beriman kpd alloh swt, dalam ayat lain alloh swt menjelaskan “Dan siapakah perkataanya yang paling baik daripada orang2 yang mengajak manusia kejalan alloh swt dan mereka beramal sholeh dan mereka berkata sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri (Fhussilat 33), dari dua ayat tersebut tergambar bahwa mulia sekali orang yang mempunyai kepedulian kepada saudaranya, terutama kepedulian terhadap keadaan hubungan manusia dengan penciptanya, dalam sebuah hadist rasululloh saw dari anas ra rasul saw bersabda tiadalah beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya (muttafaqun alaih),
amalan inilah yang meninggikan derajat seorang hamba terhadap tuhanya, jadi inti ibadah yang mulia disisi alloh swt adalah adalah nilai sosial atau kemanfaatan jamaah/bersama bukan individual, inilah yang memuliakan sahabat2 rasul saw dihadapan alloh swt, sebagaimana dijelaskan dlm surat (attaubah 100), seorang ulama menafsirkan ayat yang berkenaan bagaimana saat musa as dan umatnya dikejar2 oleh fir’aun dan balatentaranya “maka setelah dua golongan itu saling melihat yaitu golongan musa dan pengikutnya dan golongan firaun dan balatentaranya, berkatalah pengikut2 musa as, sesungguhnya kita akan benar2 tersusul, musa as menjawab, sekali kali tidak sesungguhnya tuhanku bersamaku, dan ia akan memberi petunjuk padaku”(Assyuaro’61-62), dalam konteks ayat ini, musa as mengikrarkan bahwa pertolongan hanya kepada beliau dan pengikutnya jika tertolong hanya kecipratan dari beliau, sangat berbeda ucapan rasul saw saat dalam keadaan yang sama, yaitu dimana rasul saw dan abu bakar asshiddik ra saat dikeja para musyrikin makkah tuk dibunuh, saat mereka bersembunyi digua tsur, ini adalah gua yang letaknya dipuncak jabal tsur yaitu gunung yang paling tertinggi dikota makkah, saat sampai digua tersebut sebelum rasul saw masuk maka abu bakar ra, menempel dahulu setiap lubang pd gua tersebut, dan saat lubang terakhir yang belum ditempel, sementara alat penyumbat telah habis, abu bakar menyumbarkan itu dgn jari beliau, rasul saw terbaring dipangkuan abu bakar ra, tiba2 jari abu bakar digigit ular, maka demi menjaga rasul saw agar tak terbangun dia menahankan sakit itu, tanpa terasa air mata abu bakar ra, menetes tepat dipipi rasul saw, maka rasul saw terjaga dari tidurnya, “…….rasul berkata janganlah engkau takut dan berduka cita, sesungguhnya alloh swt bersama kita……(attaubah 40), pada ayat ini ditunjukan bahwa pertolongan bukan hanya diberi kepada rasul saw tetapi kepada kita yang bermakna para sahabat rodhiyallohanhumajma’in, ulama tersebut menafsirkan bahwa ini terjadi, dikarenakan mereka melakukan kerja sebagaimana yang dilakukan rasul saw, yaitu berdakwah, berjihad dijalannya, berbeda dengan nabi musa as, yang melakukan hal tersebut hanya nabinya saja, itulah salah satu kemuliaan amal, yang paling tinggi derajatnya disisi alloh swt, yaitu rasa kepedulian nilai agama pada umat, hari ini amal yang mulia ini, mulai terkikis, dengan manusia mulai bersifat individualisme, bersifat egois dengan masing2 mementingkan dirinya, agamanya sendiri, penulis pernah melihat, seseorang yang melaksanakan umrah hampir berpuluh kali, dan begitu juga haji telah dilakukanya berulangkali, sementara dia punya tetangga yang makan nya hanya satukali sekali malah kadang tak makan, dan rata2 mereka telah lupa terhadap agamanya, kalau kita membaca sejarah keruntuhan bani ahmar diandalusia, yaitu mirip dengan keadaan umat islam saat ini, kita menangis bila membaca kisah saat bin amir ra, yaitu gubernur damaskus yang ditunjuk oleh khalifah umar ra, ketika umar ingin mendata rakyat2 miskin didamaskus, maka disitu tertera nama saad bin amir ra, sampai ia bertanya apakah ini gubernur kalian, benar jawab mereka, sangat mengharukan seorang gubernur terdata orang yang miskin, sementara pada saat itu sudah sangat sedikit jumlah orang yang miskin, ini disebabkan apa, sebagai seorang pelayan, dia lebih memberi kepuasan kepada mereka yang dilayaninya daripada dirinya, sangat berbeda dengan yang terjadi diindonesia, disaat rakyat sudah sangat kesusahan, pelayanya sibuk menaikan gaji2nya, sangat ironis memang, semoga alloh swt memberi petunjuk kepada kita semua, wallohu a’lam
Posting Komentar