HTI - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan rentetan aksi penolakan Miss
World di Indonesia tidak akan berakhir antiklimaks atau hilang seiring
tetap digelarnya ajang Miss World 2013 di Bali.
Ketua MUI Pusat yang menangani Bidang Hubungan Luar negeri, KH
Muhyidin Junaidi, mengatakan, MUI bersama barisan organisasi
kemasyarakatan (ormas) Islam tidak akan berhenti menyatakan penolakan,
walaupun Miss World tetap digelar.
Walaupun hingga hari penyelenggaraan, pihaknya tidak didengar oleh
pemerintah dan selalu dipojokkan oleh kalangan yang tidak senang atas
sikap penolakan tersebut.
“Ini adalah sikap tegas kami sebagai pembimbing umat. Dan tidak ada
istilah sia-sia menyampaikan kebenaran,” ujar Muhyidin kepada Republika,
Ahad (8/9).
MUI juga menyesalkan bila pemerintah saat ini tidak lagi menjadikan
anjuran moral dari MUI sebagai rujukan. Muhyidin bahkan mengindikasi ada
kepentingan politik tertentu, yang membuat pemerintah mengabaikan
aspirasi dari para Ulama dan ormas Islam ini.
“Kita ingatkan keras pemerintah bila tidak lagi mendengarkan imbauan
Ulama dan ajaran agama, karena alasan-alasan keuangan dan pariwisata.”
Ia menambahkan, MUI sebagai penyambung aspirasi umat dan koordinator
ormas Islam, tidak akan henti-hentinya menyampaikan anjuran sesuai
kaidah dan ajaran agama. Ketidakkonsistenan pemerintah menjaga moralitas
bangsa, jelas dia, telah terlihat disini. Jadi sudah saatnya umat Islam
cerdas tidak lagi memilih pemimpin yang mengenyampingkan aspirasi umat.
Ia juga meminta ormas Islam tidak melakukan aksi kekerasan menyikapi
tetap digelarnya ajang Miss World ini, biarlah umat yang menilai.
Penolakan keras ajang seperti ini, terang dia, juga menjadi warning bagi
pemerintah jangan ada ajang kontes seperti ini lagi di kemudian hari.
Walaupun pemerintah ngotot tetap menyelenggarakan Miss World dengan
memindahkan seluruh pagelaran di Bali. Menurut Muhyidin ini tetap
menjadi catatan buruk bagi Ulama dan ormas Islam.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono pada Sabtu
lalu memindahkan agenda puncak penyelenggaraan Miss World 2013 yang
rencananya digelar di Sentul ke Bali. Dengan demikian pemerintah meminta
pagelaran Miss World 2013 sepenuhnya digelar di Bali. “Semua acara kini
akan digelar di Bali, akan terkonsentrasi di Bali hingga penutupan,”
kata Politisi asal Partai Golkar ini.
Agung juga mengatakan tidak akan ada ajang pamer bikini, karena akan
diganti pagelaran mengenakan sarung tradisional Bali oleh 130 delegasi
peserta. Menurut Agung, pagelaran ini tetap digelar demi memajukan
pariwisara Indonesia di mata Internasional, termasuk memberi masukan
devisa negara yang cukup besar dari ajang ini. Ia pun mengatakan
pemindahan ini berdasarkan masukan dari masyarakat termasuk MUI.
Sementara itu, pihak penyelenggara belum bisa memberi komentar
terkait pemindahan sepihak dari pemerintah, gelar penobatan Miss World
dari Sentul Bogor ke Bali. Head Corporate Secretary Division RCTI Adjie D
Soeriaatmadja mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa selain
menuruti keinginan pemerintah agar pagelaran Miss World sepenuhnya
digelar di Bali.
Ia mengatakan, memang panitia sudah merencanakan beberapa rencana
alternatif. Termasuk kemungkinan pemindahan semua aktivitas pagelaran di
Bali. “Namun saat ini kita fokus mempersiapkan pembukaan dan acara awal
Miss World dulu,” ujarnya ketika dihubungi Republika.
Pihaknya pun berharap pagelaran Miss World ini dapat berjalan lancar
hingga akhir acara. “Bagi pihak yang tidak sepakat, kita menghargai
pendapat tersebut. Ini menjadi peringatan bagi panitia agar tidak
melanggar nilai agama dan budaya di Indonesia.” (republika.co.id,
8/9/2013)

Posting Komentar