Konon, kehadiran guru spiritual itu abadi dalam ingatan muridnya. Makna kehadiran, itulah salah satu kekeramatan. Biasanya, guru spiritual hanya hadir ketika sang murid telah siap, tidak hanya kesadarannya, tetapi juga kondisi mental dan spiritualnya. Uniknya, yang disebut kesiapan untuk menerima pelajaran biasanya berbanding terbalik dari kesiapan logikal seseorang ketika akan ujian semester.
Sahabat perempuan saya bertemu dengan guru spiritualnya ketika ia sudah hampir nekat meninggalkan kebenaran yang diyakininya karena merasa kecewa. Sahabat yang lain, yang tidak pernah mau tunduk pada tafsir kebenaran apa pun selama itu masih keluar dari mulut seorang manusia yang hidup, bertemu dengan guru spiritualnya melalui sehelai bulu burung yang ditemukannya terselip di antara sebuah buku tua yang ditemukannya di sebuah sudut toko penjual buku loak, yang ternyata ditulis oleh seorang sufi yang telah meninggal. Singkatnya, guru spiritual itu hadir, menyitir Muhammad Zuhri, di titik genting.
Dalam term umum, saya mungkin tidak mempunyai guru spiritual. Sejauh ini, tidak ada seorang pemuka agama pun, meskipun ia telah tampil berulang kali di depan ribuan umat atau di depan jutaan pemirsa televisi, dapat teringat tanpa kemungkinan untuk terlupakan. Mungkin, saya memang belum siap menjadi murid yang baik.
Saya hanya pernah menemui seorang kiai di pojok sebuah desa yang hampir tidak terbaca di peta. Banyak cerita podium atau pujian berbau keramat dinisbatkan kepadanya, terutama oleh penduduk sekitar yang telah banyak dibantunya. Anehnya, tidak ada yang tinggal terlalu lama di benak saya selain aktivitas kesehariannya yang khas, tidak di sentra pengajian atau ruang pengajian, tetapi di halaman rumahnya.
Ketika dengan kopiah dan baju takwanya ia duduk di serambi dan berkata, "Allah adalah Rumah. Hidup ini adalah tamasya, " matanya menerawang dan bibirnya tersenyum seperti orang yang sedang menghirup cinta. Impresi itu pula yang tampak ketika ia menyapu, memindahkan pot-pot bunga, dan menyirami tunas-tunas perdu di halaman rumahnya. Ketika itu, ia tampak sedang pulang dalam ingatannya kepada Allah, sekaligus bertamasya di halaman rumahnya yang mungil. Kakinya tanpa alas kaki, dan selalu disebutnya tanah tempatnya berdiri dengan penghormatan yang tinggi.
Semula, saya tidak tahu makna lebih dalam dari laku berkebun semacam itu selain impresi romantik bahwa di dalam kebun tentu ada kehijauan dedauan dan bunga-bunga. Tetapi, N. Blackmore menulis tentang ketakziman eksotis dari suku Aborigin Australia yang percaya bahwa mereka berasal dari tanah, dan saya terkesan. Melalui mimpi spiritual, mereka percaya bahwa Sang Asal tidak mungkin ditemui secara material kecuali melalui mimpi ilhami dan pengaruhya terhadap kesadaran manusia dan seluruh makhluk hidup di atas permukaan tanah. Arasy Sang Asal sendiri ada di balik tanah.
Kritik yang bisa dikemukakan dari perspektif keimanan tentulah bahwa kepercayaan tradisi itu berbau animistik. Tetapi, dalam tingkatan spiritual yang lebih matang, tanah adalah salah satu tanda-Nya. Dan, ketika banyak tafsir memaknai tanah sebagai simbol dari kekuatan dan kesabaran, Pak Kiai ''Tukang Kebun'' itu memaknai tanah dengan ungkapannya yang sederhana, "Keberadaan tanah selalu mengingatkan saya pada sujud yang sungguh, ketika semua kepedihan hilang dan hanya Dia yang terpandang."
Saya kira, di dalam hatinya tentu sudah ada sebidang tanah yang dipenuhi bunga-bunga.
By: Miranda Risang Ayu
Sahabat perempuan saya bertemu dengan guru spiritualnya ketika ia sudah hampir nekat meninggalkan kebenaran yang diyakininya karena merasa kecewa. Sahabat yang lain, yang tidak pernah mau tunduk pada tafsir kebenaran apa pun selama itu masih keluar dari mulut seorang manusia yang hidup, bertemu dengan guru spiritualnya melalui sehelai bulu burung yang ditemukannya terselip di antara sebuah buku tua yang ditemukannya di sebuah sudut toko penjual buku loak, yang ternyata ditulis oleh seorang sufi yang telah meninggal. Singkatnya, guru spiritual itu hadir, menyitir Muhammad Zuhri, di titik genting.
Dalam term umum, saya mungkin tidak mempunyai guru spiritual. Sejauh ini, tidak ada seorang pemuka agama pun, meskipun ia telah tampil berulang kali di depan ribuan umat atau di depan jutaan pemirsa televisi, dapat teringat tanpa kemungkinan untuk terlupakan. Mungkin, saya memang belum siap menjadi murid yang baik.
Saya hanya pernah menemui seorang kiai di pojok sebuah desa yang hampir tidak terbaca di peta. Banyak cerita podium atau pujian berbau keramat dinisbatkan kepadanya, terutama oleh penduduk sekitar yang telah banyak dibantunya. Anehnya, tidak ada yang tinggal terlalu lama di benak saya selain aktivitas kesehariannya yang khas, tidak di sentra pengajian atau ruang pengajian, tetapi di halaman rumahnya.
Ketika dengan kopiah dan baju takwanya ia duduk di serambi dan berkata, "Allah adalah Rumah. Hidup ini adalah tamasya, " matanya menerawang dan bibirnya tersenyum seperti orang yang sedang menghirup cinta. Impresi itu pula yang tampak ketika ia menyapu, memindahkan pot-pot bunga, dan menyirami tunas-tunas perdu di halaman rumahnya. Ketika itu, ia tampak sedang pulang dalam ingatannya kepada Allah, sekaligus bertamasya di halaman rumahnya yang mungil. Kakinya tanpa alas kaki, dan selalu disebutnya tanah tempatnya berdiri dengan penghormatan yang tinggi.
Semula, saya tidak tahu makna lebih dalam dari laku berkebun semacam itu selain impresi romantik bahwa di dalam kebun tentu ada kehijauan dedauan dan bunga-bunga. Tetapi, N. Blackmore menulis tentang ketakziman eksotis dari suku Aborigin Australia yang percaya bahwa mereka berasal dari tanah, dan saya terkesan. Melalui mimpi spiritual, mereka percaya bahwa Sang Asal tidak mungkin ditemui secara material kecuali melalui mimpi ilhami dan pengaruhya terhadap kesadaran manusia dan seluruh makhluk hidup di atas permukaan tanah. Arasy Sang Asal sendiri ada di balik tanah.
Kritik yang bisa dikemukakan dari perspektif keimanan tentulah bahwa kepercayaan tradisi itu berbau animistik. Tetapi, dalam tingkatan spiritual yang lebih matang, tanah adalah salah satu tanda-Nya. Dan, ketika banyak tafsir memaknai tanah sebagai simbol dari kekuatan dan kesabaran, Pak Kiai ''Tukang Kebun'' itu memaknai tanah dengan ungkapannya yang sederhana, "Keberadaan tanah selalu mengingatkan saya pada sujud yang sungguh, ketika semua kepedihan hilang dan hanya Dia yang terpandang."
Saya kira, di dalam hatinya tentu sudah ada sebidang tanah yang dipenuhi bunga-bunga.
By: Miranda Risang Ayu

Posting Komentar